Tiket Pesawat Mahal, Wisatawan Domestik ke Bali Turun 15 Persen

Penulis: Oki Setiawan  •  Rabu, 30 September 2026 | 16:48:01 WIB
Kunjungan wisatawan domestik ke Bali pada September 2026 tercatat turun 15 persen menurut data PHRI Bali.

SULAWESI TENGAH — Kunjungan wisatawan domestik ke Bali pada September 2026 turun hingga 15 persen, menurut data PHRI Bali. Penyebab utamanya bukan daya tarik destinasi, melainkan mahalnya harga tiket pesawat, minimnya kegiatan pertemuan pemerintah pusat, dan pelemahan ekonomi nasional. Sementara itu, kunjungan turis asing justru tetap stabil di angka 22 ribu orang per hari.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali mencatat penurunan tajam kunjungan wisatawan domestik sepanjang September 2026. Angka penurunan mencapai 15 persen dibanding periode normal. Wakil Ketua PHRI Bali, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, menyebut tiga faktor utama yang memicu kondisi tersebut.

Harga Tiket Pesawat Jadi Pemicu Utama

Faktor pertama dan paling dominan adalah mahalnya harga tiket pesawat menuju Bali. Biaya penerbangan yang tinggi membuat calon wisatawan domestik menunda atau membatalkan perjalanan. Kondisi ini diperparah dengan minimnya kegiatan pertemuan dari pemerintah pusat yang biasanya menggerakkan sektor MICE (meeting, incentive, convention, exhibition) di hotel-hotel Bali.

"Kenapa wisatawan domestik itu turun di bulan September ini mencapai sampai 15 persen? Karena persoalan pertama adalah mahalnya harga tiket, itu yang terjadi," kata Rai, Rabu (30/9/2026), dikutip dari detikBali.

Faktor ketiga adalah penurunan ekonomi nasional yang berdampak pada daya beli masyarakat. Ketiga hal ini saling memperkuat sehingga wisatawan domestik memilih menahan perjalanan ke Pulau Dewata.

Turis Asing Tetap Stabil, Okupansi Hotel Justru Tinggi

Di tengah lesunya kunjungan domestik, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Bali tidak mengalami penurunan. Setiap hari, sebanyak 22 ribu wisman tiba melalui 43 penerbangan. Angka ini menunjukkan minat pasar internasional terhadap Bali masih kuat.

Tingkat hunian hotel di Bali pun tercatat sehat. Pada semester satu 2026 (Januari-Juni), okupansi rata-rata regional Bali mencapai 70 hingga 73 persen. Memasuki Juli-Agustus, angka tersebut naik menjadi 80-90 persen.

"Dari Januari sampai bulan Juni semester satu 2026, tingkat hunian rata-rata regional okupansi Bali mencapai 70 persen sampai 73 persen. Hal ini sangat-sangat bagus sekali," ujar Rai.

Dampak bagi Pelaku Wisata dan Hotel

Penurunan kunjungan domestik berdampak langsung pada pendapatan hotel dan restoran yang selama ini mengandalkan segmen pasar lokal. Hotel-hotel di kawasan wisata seperti Kuta, Seminyak, dan Ubud merasakan penurunan okupansi dari tamu domestik. Sementara segmen wisman tetap menjadi penopang utama.

PHRI Bali menegaskan tidak ada penurunan kunjungan wisatawan internasional. "Yang benar kunjungan internasional turis yang ke Bali sangat stabil. Yang menurun adalah domestiknya saja, itu sebabnya," kata Rai.

Tips Traveler: Menyiasati Biaya ke Bali

Bagi traveler domestik yang tetap ingin berlibur ke Bali, ada beberapa strategi yang bisa dipertimbangkan. Pantau harga tiket pesawat jauh hari sebelum keberangkatan, pertimbangkan rute transit, atau pilih moda transportasi darat dan laut jika memungkinkan. Memilih waktu di luar peak season juga membantu menekan biaya.

Informasi terkini mengenai harga tiket dan paket wisata dapat dikonfirmasi melalui agen perjalanan atau dinas pariwisata setempat.

Reporter: Oki Setiawan
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top