SULAWESI TENGAH — Google resmi merilis aplikasi Antigravity di Play Store menjelang peluncuran perangkat Googlebook, menandai ekspansi platform pengembangan berbasis agen itu ke Android. Versi mobile ini hadir dengan antarmuka native dan hanya berjalan di Googlebook OS, membawa paket com.google.android.apps.antigravity versi 2026.09.23.988012583. Langkah ini memperkuat posisi Google di segmen perkakas developer yang selama ini dikuasai GitHub Copilot dan Cursor.
Antigravity merupakan platform pengembangan berbasis agen milik Google yang menyediakan "mission control khusus untuk bekerja bersama, mengarahkan, dan menyesuaikan agen yang beroperasi secara otonom di latar belakang". Versi 2.0 dari platform ini dirilis pada ajang Google I/O 2026 bulan Mei lalu.
Sebelum hadir di Android, Antigravity sudah tersedia dalam versi macOS, Windows, dan Linux. Kehadiran versi mobile melengkapi ekosistem lintas perangkat yang selama ini menjadi strategi Google dalam mendorong adopsi perkakas pengembangannya.
Aplikasi Antigravity di Android hadir dengan antarmuka native yang terhubung ke lingkungan Linux yang tersedia di laptop Googlebook. Pengguna dapat membuat dan men-deploy aplikasi langsung dari perangkat Googlebook.
Antarmuka versi mobile ini disebut mirip dengan versi desktop. Meski demikian, belum jelas apakah Google mempertahankan paritas fitur penuh mengingat aplikasi versi lain diperbarui dengan fitur-fitur utama hampir setiap pekan.
Saat ini Antigravity hanya tersedia di Googlebook OS. Antarmuka aplikasi mungkin berjalan di tablet dan perangkat lipat, tetapi belum ada konfirmasi apakah Google merancangnya untuk layar ponsel berukuran lebih kecil.
Paket aplikasi terdaftar dengan nama com.google.android.apps.antigravity pada versi 2026.09.23.988012583. Nomor versi tersebut menunjukkan build terbaru yang dirilis bersamaan dengan persiapan peluncuran perangkat Googlebook.
Kehadiran Antigravity di Googlebook merupakan bagian dari upaya Google menjadikan platform baru tersebut ramah bagi kalangan developer. Selain Antigravity versi Android, pengguna Googlebook juga dapat memasang versi Linux dari Antigravity, Claude Code, serta Codex milik OpenAI.
Google juga mengiklankan kemampuan memasang Antigravity CLI melalui terminal Googlebook. Kombinasi ini menempatkan Googlebook sebagai perangkat yang siap dipakai untuk alur kerja pengembangan berbasis AI agent tanpa harus berpindah ke mesin lain.
Bagi pelaku bisnis digital dan investor startup di Indonesia, langkah Google ini menandakan persaingan perkakas pengembangan berbasis AI semakin ketat. Platform seperti Antigravity, Claude Code, dan Codex kini berlomba menyediakan lingkungan kerja yang mulus di perangkat mobile maupun desktop, membuka peluang baru bagi tim produk yang bekerja secara hybrid.