SULAWESI TENGAH — Pelatih Timnas Jerman Jurgen Klopp menolak keras narasi soal kurangnya pemain berkulit putih di skuadnya yang ramai di media sosial. Ia menyebut komentar semacam itu sebagai omong kosong belaka dan menegaskan tak punya waktu untuk hal bodoh.
Klopp merespons isu yang dimunculkan politisi partai sayap kanan Alternative for Deutschland (AfD), Kay Gottschalk. Politisi itu sengaja mengunggah dua foto timnas Jerman dari era berbeda untuk menyoroti komposisi ras pemain.
Foto pertama menampilkan 11 pemain inti berkulit putih saat final Piala Dunia 1990. Foto kedua memperlihatkan 11 pemain inti dengan delapan orang non-kulit putih yang kalah 0-1 dari Yunani di UEFA Nations League pada 27 September lalu.
Gottschalk menulis pernyataan yang menyiratkan para pemain imigran tidak memiliki kesamaan sejarah dengan Jerman. Ia menyebut ciri karakter, kebajikan tertentu, dan semangat tim sebagai nilai budaya yang berkembang selama berabad-abad dan dibentuk pengalaman sejarah bersama.
Narasi semacam itu muncul di tengah meningkatnya popularitas partai sayap kanan di Jerman dalam beberapa tahun terakhir. Media sosial menjadi ruang utama penyebaran komentar soal banyaknya pemain berdarah imigran di skuad Jerman.
Klopp enggan memberi angin segar untuk kelompok yang mempersoalkan darah murni tersebut. Sejak ditunjuk sebagai pelatih, ia memang menekankan pentingnya persatuan di dalam tim.
"Sama sekali tidak ada alasan untuk memedulikan orang-orang ini. Kalian tidak akan mendapatkan tanggapan saya soal ini. Saya tidak punya banyak waktu untuk hal-hal bodoh dalam kehidupan sehari-hari, apalagi di media sosial," tegas Klopp.
Pernyataan itu menutup ruang debat soal komposisi ras di skuadnya. Klopp memilih fokus pada urusan teknis tim ketimbang menanggapi provokasi politik.
Sejarah mencatat Jerman terakhir kali menjuarai gelar mayor saat menjadi juara Piala Dunia 2014. Skuad saat itu diisi sejumlah pemain keturunan dan imigran.
Nama-nama seperti Miroslav Klose, Lukas Podolski, Mesut Ozil, Jerome Boateng, Sami Khedira, hingga Shkodran Mustafi menjadi bagian dari kesuksesan di Brasil. Klose bahkan menjadi top skor sepanjang masa Piala Dunia pada turnamen tersebut.
Fakta itu bertentangan dengan narasi yang dibangun Gottschalk. Komposisi beragam justru mengantar Jerman ke puncak sepak bola dunia.