PALU — Data pemantauan BMKG menunjukkan tren kenaikan suhu rata-rata di Sulawesi Tengah berada pada kisaran 0,045 hingga 0,05 derajat Celsius per tahun. Di sejumlah wilayah, termasuk Parigi Moutong, Sigi, Donggala, dan Lembah Palu, hari tanpa hujan dapat berlangsung lebih dari dua bulan.
Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri BMKG, Asep Firman Ilahi, menyebut Sulawesi Tengah memiliki kompleksitas zona musim yang tinggi. Kondisi itu membuat pembacaan anomali cuaca dan fenomena iklim global seperti El Niño menjadi semakin rumit.
Dampak lanjutannya terlihat pada ketersediaan air. Debit sejumlah sungai dilaporkan menurun, sementara permukaan tanah yang mengering meningkatkan potensi titik panas di sekitar kawasan hutan.
Fasilitator Anak, Gender, dan Inklusi Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi, Fatmawati, mengatakan dampak kekeringan paling terasa oleh masyarakat adat di wilayah dampingan CAPPA, terutama di Kabupaten Parigi Moutong. Hutan, sungai, dan ladang yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga semakin tertekan.
Krisis air bersih memaksa sebagian anak berjalan lebih jauh untuk mendapatkan air. Sebagian lagi terpaksa memakai air sungai yang kondisinya tidak selalu layak, sehingga risiko penyakit kulit dan diare meningkat.
Ketersediaan pangan lokal ikut terganggu. Ketika hasil kebun menurun, pemenuhan gizi anak terancam. Waktu belajar dan bermain anak pun berkurang karena mereka harus membantu keluarga mencari air atau mengurus kebun yang terdampak kekeringan.
Beban perempuan adat meningkat seiring bertambahnya pekerjaan domestik dan pengasuhan akibat persoalan air dan pangan.
Melalui Program Sehat Alam Sehat Anak (SASA), CAPPA mendorong penguatan ketahanan masyarakat dan perlindungan anak di tengah perubahan kondisi lingkungan. Fatmawati menegaskan anak-anak tidak semestinya hanya diposisikan sebagai korban bencana maupun krisis iklim.
"Jangan memandang anak-anak hanya sebagai korban bencana. Jika diberi ruang, anak-anak masyarakat adat adalah subjek aktif dari solusi dalam merawat masa depan bumi kita," kata Fatmawati.
Upaya itu dilakukan lewat berbagai inisiatif berbasis komunitas, seperti kebun sekolah, pemanfaatan kearifan tradisional, serta penyediaan ruang partisipasi bagi anak.
Asep menekankan perubahan iklim tidak bisa dihentikan secara instan. Menurutnya, kunci utama terletak pada adaptasi dan upaya menyelamatkan kawasan hutan.
"Perubahan iklim tidak bisa kita hentikan secara instan. Kuncinya adalah adaptasi dan bagaimana kita menyelamatkan benteng terakhir peradaban, yaitu kawasan hutan," tegas Asep.
Diskusi tersebut mendorong pemerintah, media, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat luas memperkuat kolaborasi dalam menghadapi krisis iklim. Kolaborasi itu sekaligus diminta memastikan perlindungan hak anak dan masyarakat adat di Sulawesi Tengah tetap terjaga.