Pencarian

80 Persen Pabrikan Mobil Listrik di Indonesia Pakai Baterai LFP, Ini Alasannya

Selasa, 29 September 2026 • 11:49:01 WIB
80 Persen Pabrikan Mobil Listrik di Indonesia Pakai Baterai LFP, Ini Alasannya
Pabrikan mobil listrik di Indonesia memilih baterai LFP karena harga lebih murah dan titik nyala lebih tinggi.

SULAWESI TENGAH — Sebanyak 80 persen produsen mobil listrik di pasar Indonesia memilih baterai LFP (Lithium Ferro-Phosphate) ketimbang NMC (Nickel Manganese Cobalt). Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) menyebut harga lebih murah dan titik nyala yang jauh lebih tinggi jadi faktor utama. Baterai LFP disebut butuh suhu 800 derajat Celsius untuk terbakar, sementara NMC hanya 200 derajat.

Wakil Ketua Pengembangan dan Penelitian Periklindo, Prabowo Kartoleksono, membeberkan alasan di balik dominasi baterai LFP pada rapat dengar pendapat di DPR. Menurutnya, pertimbangan utama bukan sekadar soal biaya produksi, melainkan kombinasi antara harga, keamanan, dan umur pakai.

Dari sisi harga, baterai LFP memang lebih murah dibanding NMC. Selisih harga ini membuat pabrikan bisa menekan biaya produksi kendaraan listrik dan menawarkan harga jual lebih kompetitif ke konsumen.

Titik Nyala LFP 800 Derajat Celsius, NMC Hanya 200 Derajat

Aspek keamanan menjadi pembeda paling signifikan antara kedua jenis baterai. Prabowo menjelaskan perbedaan temperatur pembakaran yang sangat jauh antara LFP dan NMC.

"Titik nyalanya NMC itu 200 derajat celcius dia langsung jadi api, kalau LFP 800 (derajat), Pak. Jadi dia membutuhkan temperatur yang lebih tinggi untuk bisa menjadi api. Nah ini salah satu kenapa banyak manufaktur memilih LFP karena memang lebih aman," ujar Prabowo.

Artinya, baterai LFP membutuhkan panas empat kali lebih tinggi untuk bisa terbakar. Kondisi ini memberi margin keamanan lebih besar, terutama pada kendaraan listrik yang beroperasi di iklim tropis seperti Indonesia.

Usia Pakai Dua Kali Lipat dan Degradasi Lebih Lambat

Selain soal keamanan, daya tahan baterai LFP juga disebut lebih unggul. Prabowo menyatakan usia pakainya bisa mencapai dua kali lipat dibanding baterai NMC.

Degradasi atau penurunan kapasitas baterai LFP juga berlangsung lebih lambat. Bagi pemilik kendaraan listrik, ini berarti performa baterai bertahan lebih lama sebelum perlu diganti.

Daur Ulang Lebih Praktis dan Murah

Proses daur ulang baterai LFP diklaim lebih sederhana ketimbang NMC. Prabowo menjelaskan sejumlah perusahaan kini mampu memproses LFP bekas secara kimiawi untuk mengembalikan struktur materialnya.

"Sekarang sudah banyak perusahaan yang mampu mengolah LFP yang sudah kurang bagus itu secara kimiawi diproses sehingga strukturnya bisa kembali normal lagi dan akhirnya jadi baterai yang bagus lagi. Jadi tidak perlu seperti NMC yang pirolisis yang harus dibakar dengan temperatur sangat tinggi, dilelehkan kemudian dipisahkan materialnya atau dengan cairan kimia dipisahkan," lanjutnya.

Metode daur ulang NMC yang memerlukan pirolisis dengan temperatur sangat tinggi membuat biaya pengolahan lebih mahal. Sebaliknya, pendekatan kimiawi pada LFP menekan kebutuhan energi dan biaya operasional.

Kelemahan LFP: Densitas Lebih Berat

Di balik sejumlah keunggulannya, baterai LFP punya kekurangan pada aspek densitas energi. Bobotnya lebih berat dibanding baterai NMC dengan kapasitas setara.

Kondisi ini berpengaruh pada bobot keseluruhan kendaraan dan efisiensi energi. Meski begitu, produsen baterai LFP terus mengembangkan teknologi untuk meningkatkan densitas energi agar mendekati performa NMC.

"Jadi LFP itu sudah hampir berimbang dengan NMC dengan harga jauh lebih murah, performanya hampir menyamai NMC, umur lebih panjang, lebih safe. Jadi itu kenapa 80 persen seperti yang disampaikan rata-rata kendaraan apakah itu motor apakah itu mobil menggunakan LFP," pungkas Prabowo.

Implikasi untuk Pasar Kendaraan Listrik Indonesia

Dominasi baterai LFP di pasar kendaraan listrik Indonesia mencerminkan prioritas pabrikan pada tiga hal: harga jual kompetitif, keamanan, dan daya tahan. Ketiga faktor ini sejalan dengan kebutuhan konsumen domestik yang masih sensitif terhadap harga.

Pilihan baterai LFP juga membuka peluang pengembangan ekosistem daur ulang lokal. Proses pengolahan yang lebih sederhana memungkinkan lebih banyak pelaku usaha terlibat dalam rantai pasok baterai bekas.

Bagi calon pembeli mobil atau motor listrik, informasi ini bisa jadi pertimbangan saat membandingkan spesifikasi produk. Mengetahui jenis baterai yang digunakan membantu memperkirakan biaya kepemilikan jangka panjang, termasuk potensi penggantian baterai di masa depan.

Follow www.sultengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: oto.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks