Forum Kerukunan Umat Beragama Sulawesi Tengah menegaskan kerukunan antarumat beragama berperan sebagai benteng utama pertahanan bangsa yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Ketua FKUB Sulteng Prof Zainal Abidin menyampaikan hal itu di Palu, Kamis, dengan menekankan momentum Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober sebagai bahan renungan berbangsa dan bernegara. Ia mengimbau seluruh elemen masyarakat terus menyuarakan pesan perdamaian demi keutuhan NKRI.
PALU — Forum Kerukunan Umat Beragama Sulawesi Tengah menilai kerukunan yang sudah terjalin lama di daerah ini menjadi modal utama menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penegasan itu disampaikan Ketua FKUB Sulteng Prof Zainal Abidin di Palu, Kamis, menjelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila.
Menurut Zainal, kehidupan rukun antarumat beragama berdampak langsung pada rasa aman dan tenteram masyarakat. Kondisi itu, katanya, bukan sekadar harmoni sosial, melainkan kekuatan pertahanan bangsa dari dalam.
"Kalau rakyat hidup rukun sudah pasti aman dan tenteram. Maka kerukunan yang sudah terjalin sejak lama dapat menjadi benteng pertahanan bangsa dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Zainal.
Hari Kesaktian Pancasila sebagai Bahan Refleksi
Zainal menyebut peringatan 1 Oktober setiap tahun bukan sekadar seremonial. Momentum itu, menurut dia, harus dijadikan bahan renungan dan refleksi dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebagai umat beragama, lanjutnya, masyarakat perlu saling menjaga dan memahami satu sama lain. Berbagai peristiwa kelam pada masa lalu ia nilai sebagai pelajaran berharga untuk memperbaiki tatanan kehidupan sekaligus memperkokoh persatuan.
"Nilai-nilai luhur Pancasila harus dijadikan kompas dan pedoman dalam berinteraksi sosial di tengah kemajemukan bangsa. Pancasila juga mengajarkan nilai kerukunan dan toleransi," ujarnya.
Pancasila Dinilai Mampu Menyatukan Ratusan Suku
Zainal menekankan pentingnya mengambil pelajaran dari sejarah agar Bangsa Indonesia tidak mudah terpecah belah oleh ideologi radikal. Ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan ajaran agama, katanya, harus diwaspadai bersama.
Ia menilai Pancasila telah membuktikan ketangguhannya dalam menyatukan ratusan suku dan keragaman agama di Indonesia. Tugas generasi sekarang, menurut dia, adalah merawat ikatan persaudaraan itu supaya tetap utuh.
"Pancasila telah membuktikan ketangguhan-nya dalam menyatukan ratusan suku dan keragaman agama di Indonesia. Tugas kita sekarang adalah merawat ikatan persaudaraan ini supaya tetap utuh," ucap Zainal yang juga tokoh moderasi beragama.
Penguatan Moderasi hingga Tingkat Akar Rumput
Komitmen membentengi negara dari ancaman ideologi ekstrem, menurut Zainal, perlu dilakukan melalui penguatan nilai-nilai moderasi dan toleransi hingga tingkat akar rumput. Pengalaman pahit sejarah masa lalu ia jadikan dasar pentingnya langkah tersebut.
Ia menegaskan agama dan kebangsaan tidak boleh dipertentangkan. Keduanya, katanya, harus saling menguatkan dalam membangun peradaban yang berkeadilan dan penuh kasih sayang.
"Ketika nilai-nilai kemanusiaan dan saling menghargai diutamakan maka ideologi apa pun yang ingin memecah belah bangsa tidak akan pernah mendapat tempat di hati masyarakat," tuturnya.
Imbauan kepada Tokoh Agama hingga TNI/Polri
Zainal mengimbau tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, tokoh masyarakat, TNI/Polri, serta seluruh elemen pemangku kepentingan terus menyuarakan pesan-pesan perdamaian. Imbauan itu ia sampaikan agar narasi intoleran tidak mendapat ruang di tengah masyarakat.
"Mari kita jadikan momentum sejarah ini untuk semakin mempererat tali silaturahim, menolak narasi intoleran, dan bersama-sama merawat kedamaian demi keutuhan NKRI," kata dia.