BANYUMAS — Produk fesyen tersebut dikembangkan tim mahasiswa yang diketuai Anissa Anggraini. Ia menyebut pendekatan desain sengaja dibuat agar dekat dengan selera Generasi Z tanpa menghilangkan unsur budaya daerah.
Peserta Universitas Widya Nusantara itu menjelaskan bahwa flora, fauna, dan budaya lokal Sulawesi Tengah menjadi fondasi utama setiap rancangan. Motif tersebut diaplikasikan pada pakaian sekaligus tote bag yang dipamerkan di ajang Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo.
Kekhawatiran Budaya Lokal Mulai Ditinggalkan Gen Z
Anissa mengaku inovasi ini berangkat dari kegelisahan soal budaya lokal yang kian jarang dikenal anak muda. Ia menyampaikan hal itu secara terbuka di hadapan pengunjung pameran.
"Beberapa budaya mulai fading dan kurang dikenal oleh Gen Z," ujarnya.
Melalui desain yang lebih modern, ia berharap produk fesyen bisa jadi pintu masuk pengenalan budaya Sulawesi Tengah. Pendekatannya bukan ceramah budaya, melainkan lewat benda yang dipakai sehari-hari.
"Kami membawa unsur budaya Sulawesi Tengah melalui fashion yang dekat dengan Gen Z," katanya.
Dari Lingkaran Kampus ke Pesanan Lebih dari 1.000 Pieces
Sebelum masuk pasar lebih luas, usaha Anissa dan tim awalnya hanya menyasar lingkungan kampus dan pertemanan. Pemasaran berjalan dari mulut ke mulut dengan jangkauan terbatas.
"Awalnya masih di sekitar kampus dan teman-teman, jadi belum terlalu berkembang," katanya.
Perkembangan usaha meningkat setelah tim memperoleh pendanaan P2MW dan mengikuti tiga pelatihan. Menurut Anissa, pendanaan dan pelatihan membantu tim mengembangkan usaha serta memperluas strategi pemasaran.
Strategi itu kemudian diarahkan ke pasar business to business atau B2B. Hasilnya, tim mengaku sudah mendapatkan order dari kalangan universitas.
"Kami sudah mendapatkan order lebih dari 1.000 pieces dari universitas," katanya.
Tim juga berupaya menjadi pemasok pakaian bagi mahasiswa baru. Produk yang dipasok tetap mempertahankan unsur flora, fauna, dan budaya Sulawesi Tengah.
Target Perluasan Pasar ke Kota Sekitar Palu
Anissa menegaskan usaha ini tidak semata berorientasi pada penjualan produk. Ia ingin produknya menjadi media untuk mengenalkan kekayaan budaya Sulawesi Tengah kepada generasi muda.
Setelah pasar kampus dan pesanan institusi berjalan, ia menargetkan perluasan pasar menuju sejumlah kota di sekitar Palu.
"Kami ingin Symbiosis tidak hanya ada di Palu, tetapi bisa masuk kota sekitar," katanya.
Ia mengajak mahasiswa memanfaatkan peluang kewirausahaan untuk mengembangkan kemampuan dan menciptakan usaha. Menurutnya, mahasiswa dapat memanfaatkan peluang tersebut untuk menjadi generasi muda yang mandiri.