SULAWESI TENGAH — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan sesi I di level 6.038 dengan penguatan tipis 0,03%, nyaris tak bergerak. Nilai transaksi hanya Rp5,08 triliun dari 21,08 miliar saham yang diperdagangkan, menandakan minat investor yang masih lemah. Saham properti, konsumen non-primer, dan transportasi menjadi penopang utama indeks.
Penguatan tipis IHSG ditopang oleh tiga sektor utama yang mencatat kenaikan cukup solid. Sektor properti memimpin dengan penguatan 0,99%, disusul konsumen non-primer 0,86%, dan transportasi 0,78%.
Di jajaran saham LQ45, beberapa emiten mencatat kenaikan signifikan di tengah perdagangan yang sepi. PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) menguat 3,49%, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) melesat 2,41%, dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mencatat kenaikan 2,16%.
Tekanan Eksternal Masih Membayangi Pasar
Kenaikan yield US Treasury 10 tahun ke level di atas 5,25% menjadi salah satu faktor yang menahan laju IHSG. Permintaan terhadap aset berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) terus meningkat seiring ketidakpastian politik dan fiskal di negara-negara maju.
Kondisi ini membuat investor cenderung menahan diri dari pasar saham Indonesia. Aliran dana asing yang masuk pun terbatas, tercermin dari nilai transaksi yang hanya menyentuh Rp5,08 triliun sepanjang sesi I.
Data Ekonomi Domestik Belum Beri Tenaga Tambahan
Sejumlah data ekonomi Indonesia terbaru dinilai belum cukup kuat untuk mendorong penguatan pasar keuangan lebih lanjut. Beberapa indikator bahkan memperlihatkan prospek pertumbuhan yang mulai kehilangan momentum.
Dampak negatif konflik di Timur Tengah turut memperburuk gambaran tersebut. Ketegangan geopolitik di kawasan itu berdampak pada harga komoditas dan arus perdagangan global, yang pada akhirnya mempengaruhi sentimen investor terhadap pasar emerging market, termasuk Indonesia.
Pergerakan Sektoral dan Saham Pilihan
Meski indeks utama nyaris stagnan, pergerakan di level sektoral menunjukkan variasi yang cukup lebar. Berikut rincian sektor dan saham yang mencatat penguatan pada perdagangan sesi I:
- Sektor properti: menguat 0,99%
- Sektor konsumen non-primer: menguat 0,86%
- Sektor transportasi: menguat 0,78%
- SCMA: menguat 3,49%
- AKRA: menguat 2,41%
- AADI: menguat 2,16%
Nilai transaksi yang tipis menjadi sinyal bahwa pelaku pasar masih wait and see. Investor menunggu katalis yang lebih jelas, baik dari data ekonomi domestik maupun perkembangan global, sebelum mengambil posisi yang lebih agresif.
Yield UST 10Y yang bertahan di atas 5,25% menjadi level yang perlu dicermati. Selama yield masih tinggi, tekanan terhadap mata uang dan pasar obligasi negara berkembang akan tetap ada, yang pada akhirnya membatasi ruang penguatan IHSG.