PARIGI — Bupati Parigi Moutong Erwin Burase mendorong petani di subsektor tanaman pangan untuk beralih ke sistem budidaya berbasis teknologi. Metode yang disebut Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) itu diyakini mampu menggandakan hasil panen dari rata-rata 3,8–5 ton per hektare menjadi maksimal 10 ton per hektare.
Erwin menegaskan bahwa membuka sawah baru bukan lagi solusi utama. Ketersediaan sumber air di Parimo semakin terbatas, sehingga pembukaan lahan hanya akan memperparah pembagian debit air antarpetani. "Perlakuan penggunaan teknologi dan sistem metode budidaya lebih maju, dengan menggunakan alat dan mesin pertanian (alsintan) modern menjadi pilihan yang lebih efektif," ujarnya usai uji coba alat tanam benih langsung (tabela) di Parigi, Senin.
Menurut Erwin, pada 2026 Kabupaten Parimo mendapat kuota penerapan PM-AAS seluas 2.280 hektare. Lahan tersebut tersebar di 11 kecamatan, mulai dari Kecamatan Sausu hingga Kecamatan Ongka. Ia berharap cakupan program ini terus diperluas agar lebih banyak kawasan persawahan bisa menikmati teknologi pertanian modern.
Data pemerintah setempat menunjukkan produksi padi Parigi Moutong mencapai 286.778 ton, setara dengan 153.081 ton beras. Sementara itu, kebutuhan konsumsi lokal hanya 54.465 ton. Artinya, daerah ini memiliki surplus besar dan menjadi salah satu sentra pangan utama di Sulawesi Tengah. Predikat itu, kata Erwin, harus dipertahankan dan dikembangkan melalui inovasi budidaya yang hemat biaya.
Bupati menekankan bahwa pemanfaatan teknologi bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan. Petani harus menguasai alsintan modern untuk menghadapi tantangan perubahan iklim, termasuk ancaman El Nino. "Saya berharap petani semakin solid meningkatkan produksi, karena pertanian menjadi tulang punggung ketahanan pangan," tutur Erwin.