SULAWESI TENGAH — Penguatan IHSG pada perdagangan kemarin tidak terlepas dari dorongan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memimpin dengan kenaikan 3,17%, disusul PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang naik 2,16%, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang menguat 1,32%. Dari 11 sektor yang diperdagangkan, sembilan sektor berhasil ditutup di zona positif, dengan sektor properti mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 2,72%.
Data perdagangan menunjukkan investor asing kembali agresif mengakumulasi saham. Di pasar reguler, total pembelian bersih asing mencapai Rp741,19 miliar, dan di seluruh pasar tercatat Rp623,48 miliar. Aliran dana terbesar mengarah ke BBCA senilai Rp404,43 miliar, diikuti BMRI Rp129,87 miliar, BBRI Rp116,06 miliar, dan BBNI Rp94,05 miliar.
Sentimen eksternal turut mendukung pergerakan pasar. Bursa Amerika Serikat ditutup menguat signifikan, dengan Dow Jones naik 1,71%, S&P 500 bertambah 1,79%, dan Nasdaq menguat 2,59%. Sejalan dengan itu, ETF Indonesia (EIDO) meningkat 2,00% dan indeks MSCI Indonesia naik 2,16%.
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat pendapatan konsolidasi sebesar US$866,75 juta pada semester I-2026, tumbuh 27,85% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$677,93 juta. Pertumbuhan ini ditopang oleh kenaikan volume produksi batu bara sebesar 7,10% menjadi 38,50 juta ton, serta volume penjualan yang naik 11,70%.
Rata-rata harga jual (FOB) juga mengalami perbaikan menjadi US$62,90 per ton dari sebelumnya US$61,30 per ton. Efisiensi operasional terlihat dari membaiknya strip ratio menjadi 7,5 kali dibandingkan 8,1 kali pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bruto perseroan melonjak 36,32% menjadi US$145,90 juta, dengan margin usaha meningkat menjadi 9,60%.
Laba sebelum pajak mencapai US$104,32 juta atau bertambah 102,49% secara tahunan. Adapun laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar US$58,85 juta, meningkat 188,39% dibandingkan semester I-2025. Manajemen menyebut capaian ini turut dipengaruhi kontribusi dari aset di Australia yang belum masuk dalam basis perbandingan pada periode yang sama tahun lalu.
PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) memutuskan untuk membagikan dividen tunai interim tahun buku 2026 sebesar Rp3,9 per saham, dengan total nilai sekitar Rp70,25 miliar. Keputusan ini didukung oleh laba bersih periode berjalan sebesar Rp143,56 miliar dan saldo laba ditahan yang belum ditentukan penggunaannya sebesar Rp246,91 miliar.
Nilai dividen tersebut setara dengan rasio pembayaran dividen (payout ratio) sebesar 48,94% dari laba bersih semester I-2026. Berdasarkan harga penutupan saham AMAR di level Rp224 per saham pada 4 Agustus, dividen interim ini mencerminkan dividend yield sekitar 1,74%. Jadwal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 11 Agustus 2026, sedangkan pembayaran dividen dijadwalkan pada 28 Agustus 2026.
Dari sisi korporasi lainnya, PT Green Power Group Tbk (LABA) menargetkan pendapatan sebesar Rp40 miliar sepanjang 2026 dengan laba bersih Rp5 miliar. Perseroan menganggarkan belanja modal sekitar Rp6 miliar untuk pengadaan mesin injeksi, mesin molding, dan peralatan operasional lainnya. Pertumbuhan pendapatan diharapkan berasal dari penjualan produk molding, kegiatan perdagangan, serta pengembangan bisnis baterai beserta ekosistemnya, termasuk battery swap cabinet.
Untuk perdagangan hari ini, sejumlah saham menjadi perhatian analis dengan level support dan resistance yang perlu dicermati:
Disclaimer: Seluruh analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Investasi mengandung risiko.