SIGI — Sebanyak 1.050 perempuan dan penyandang disabilitas di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, kini terlibat dalam program penguatan ekonomi bernama Pakagasi. Mereka tersebar di 10 desa yang berada di tiga kecamatan, yakni Gumbasa, Dolo Selatan, dan Sigi Biromaru.
Program ini merupakan kolaborasi Pemerintah Kabupaten Sigi dengan Yayasan Sikola Mombine bersama Arbeiter-Samariter-Bund (ASB). Fokus utamanya adalah pendampingan usaha dan peningkatan kapasitas kewirausahaan bagi kelompok yang selama ini berada dalam kondisi rentan.
Project Manager Program Pakagasi Sikola Mombine, Muhammad Taufik Hidayat, mengatakan pendampingan difokuskan pada peningkatan keterampilan teknis dan kewirausahaan. Selain itu, program ini juga memperkuat kepemimpinan perempuan dan penyandang disabilitas dalam kelompok usaha mereka.
Dari total peserta, sektor pertanian menjadi usaha yang paling banyak digeluti, yakni oleh 273 orang. Disusul usaha makanan sebanyak 263 orang dan usaha kue 171 orang. Selebihnya tersebar di sektor jasa, kios warung campuran, camilan, minuman, pakaian, isi ulang, hingga peternakan.
“Sebanyak 1.050 orang perempuan dan penyandang disabilitas yang kami dampingi di 10 desa. Semuanya rata-ratanya adalah pelaku usaha,” kata Taufik di Palu, Kamis.
Pakagasi tidak hanya berhenti pada pendampingan teknis. Taufik menjelaskan, program ini turut mengembangkan koperasi inklusif sebagai penopang usaha kecil. Koperasi tersebut dirancang untuk mempermudah akses keuangan, pengadaan bahan baku, hingga rantai pasokan bagi anggota.
Keberadaan koperasi ini menjadi penting karena banyak pelaku usaha dari kelompok rentan kerap kesulitan mengakses permodalan dari lembaga keuangan formal. Dengan adanya wadah bersama, mereka bisa saling memperkuat modal dan jaringan distribusi.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sigi, Nuim Hayat, menegaskan bahwa 10 desa yang menjadi lokasi program ini merupakan pilot project. Menurutnya, praktik baik yang terbentuk di desa-desa tersebut bisa menjadi rujukan bagi desa lain di Sigi.
“10 desa ini menjadi pilot project bagi desa-desa yang lain. Jadi ini bisa menjadikan praktik-praktik baik untuk desa-desa yang lain,” ujarnya.
Nuim menambahkan, hasil pendampingan di 10 desa tersebut perlu dievaluasi secara berkala. Evaluasi ini penting untuk mengidentifikasi capaian program sekaligus menjadi bahan dalam menerapkan program serupa ke desa-desa lainnya sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.
Pakagasi resmi berjalan sejak 1 September 2023 dan dijadwalkan berakhir pada 30 Desember 2026. Menjelang akhir program, pihak pelaksana telah menyusun rencana kerja tahunan agar manfaatnya bisa berkelanjutan.
Rencana tersebut juga disinkronkan dengan program Pemerintah Kabupaten Sigi dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Langkah ini diambil agar pendampingan yang sudah berjalan tidak terputus meski masa program usai.
Pemerintah Kabupaten Sigi mengapresiasi dukungan Yayasan Sikola Mombine, ASB, Kementerian Dalam Negeri, serta berbagai pihak yang membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah rawan bencana tersebut.