PALU — Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Sulawesi Tengah menyebut pendampingan menjadi kunci utama dalam program peningkatan produktivitas ternak di daerah. Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Disbunnak Sulteng Dandy Alfita mengatakan, setiap peternak yang menerima bantuan wajib mengikuti bimbingan teknis terlebih dahulu.
“Jelas ada (pendampingan), berupa bimbingan teknis kepada mereka. Saat mendapatkan bantuan, diberikan bimbingan teknis bagaimana cara pemberian pakan yang sesuai dengan peruntukannya,” kata Dandy di Palu, Selasa.
Pemerintah tidak hanya berhenti pada pendampingan. Bantuan berupa bibit dan indukan sapi juga disalurkan untuk menambah populasi sekaligus meningkatkan kualitas genetik ternak. Sapi dinilai sebagai komoditas strategis karena memiliki nilai jual tinggi dan berfungsi sebagai tabungan bagi keluarga peternak.
Potensi pengembangan sapi di Sulteng tersebar di sejumlah kabupaten, antara lain Kabupaten Banggai, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Sigi. Dari total populasi yang mencapai 224 ribu ekor, sekitar 42 persen di antaranya merupakan sapi betina produktif yang siap dimanfaatkan sebagai indukan.
Teknologi inseminasi buatan menjadi salah satu cara yang didorong untuk mempercepat pertumbuhan populasi ternak. Sumber bibit untuk program ini berasal dari unit pelaksana teknis (UPT) pembibitan daerah maupun pemerintah pusat.
Dengan memanfaatkan sapi betina produktif yang ada, Pemprov Sulteng berharap angka kelahiran ternak meningkat signifikan. Hal ini dinilai lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan perkawinan alami yang membutuhkan waktu lebih lama.
Untuk usaha peternakan skala rumah tangga, bantuan pengembangan ternak kecil juga menjadi perhatian. Selain kambing, budi daya unggas khususnya ayam mendapat perhatian khusus karena bisa cepat memberikan dampak ekonomi bagi keluarga.
“Ayam itu bukan diberikan hanya per ekor, tetapi juga disusul dengan pemberian obat dan vitamin, kemudian kandang dan pakan,” jelas Dandy.
Bantuan yang diberikan secara lengkap ini diharapkan meringankan beban awal peternak. Ayam yang mulai berproduksi pada usia sekitar enam bulan dinilai mampu membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, baik untuk konsumsi sendiri maupun dijual ke pasar.
Program pendampingan dan bantuan ini merupakan bagian dari upaya Pemprov Sulteng memperkuat usaha peternakan masyarakat. Dengan produktivitas yang meningkat, pendapatan peternak diharapkan ikut naik dan mendorong perekonomian daerah secara keseluruhan.
Langkah ini juga menjadi jawaban atas kebutuhan protein hewani masyarakat yang terus meningkat. Keberadaan ternak yang sehat dan produktif menjadi penopang utama ketahanan pangan di Sulawesi Tengah.