BANGGAI — Angka kemiskinan di Desa Sepa, Kecamatan Pagimana, turun drastis dari 86 persen menjadi 19 persen dalam tiga periode kepemimpinan Kepala Desa Erik P. Djaga. Keberhasilan ini dicapai setelah desa yang semula memiliki 95 dari 110 kepala keluarga miskin itu mulai mengelola dana desa secara terarah.
“Awalnya saya tidak berniat maju. Tetapi masyarakat terus memberikan dorongan dan istri juga merestui. Akhirnya saya ikut mencalonkan diri dan mendapat kepercayaan masyarakat,” ungkap Erik saat ditemui di Kantor Desa Sepa.
Salah satu motor penggerak ekonomi desa adalah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang mengelola peternakan babi. Unit usaha ini mampu menghasilkan keuntungan sekitar Rp 90 juta dalam satu siklus penjualan.
Pemerintah desa juga membentuk tim pendataan masyarakat miskin sebagai dasar penyusunan program. Hasilnya, bantuan dan intervensi pembangunan lebih tepat sasaran.
Desa Sepa memiliki potensi wisata alam yang mulai dimaksimalkan: Air Terjun Sempe, Air Terjun Tolinting, dan Air Terjun Liudo. Pemerintah desa membentuk Satuan Tugas Pariwisata yang bertugas mengelola kawasan wisata dan memperkuat promosi melalui website desa.
Pelatihan penggunaan drone untuk promosi destinasi wisata juga diberikan kepada pemuda desa. Langkah ini diambil agar potensi alam desa bisa dikenal lebih luas melalui platform digital.
Di sektor perikanan, Pemerintah Desa Sepa menyalurkan bantuan mesin ketinting dan jaring ikan kepada sekitar 10 keluarga nelayan. Bantuan ini berasal dari Pemerintah Kabupaten Banggai untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Meski demikian, Erik berharap pemerintah kabupaten dan provinsi dapat mendukung pembangunan jalan produksi menuju lahan pertanian. “Jalan produksi sangat dibutuhkan petani untuk mengangkut hasil panen,” katanya.
Di bidang kesehatan, pemerintah desa memastikan masyarakat memperoleh akses layanan BPJS Kesehatan. Pemerintah desa juga membantu warga yang mengalami kendala administrasi agar tetap mendapat pelayanan.
Pada bidang pendidikan, Desa Sepa telah membangun gedung PAUD permanen dan memberikan insentif kepada tenaga pendidik. Program pencegahan stunting melalui pemberian makanan tambahan bergizi bagi ibu hamil juga berjalan.
Menjelang berakhirnya masa jabatan pada 2030, Erik berharap pemerintah daerah dapat membantu pengadaan ambulans desa. “Saat ini ambulans menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat,” ujarnya.
Pemerintah desa juga memperkuat pemberdayaan UMKM melalui bantuan peralatan produksi kepada kelompok usaha ibu-ibu pembuat kue serta pelatihan pemasaran. Karang Taruna Desa Sepa memperoleh bantuan peralatan bengkel dan pelatihan keterampilan untuk membuka peluang usaha bagi generasi muda.
Erik menilai hubungan kerja antara Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) berjalan harmonis. Hal ini membuat berbagai program pembangunan dapat dilaksanakan sesuai kebutuhan masyarakat.
Kini jumlah kepala keluarga di Desa Sepa berkembang dari sekitar 110 menjadi 225 kepala keluarga. Desa ini juga berhasil menertibkan ternak yang sebelumnya berkeliaran di jalan melalui penerapan aturan bersama pemerintah kecamatan, sehingga mengurangi potensi kecelakaan lalu lintas.