SULAWESI TENGAH — KabarOto.com — Raksasa otomotif asal Tiongkok itu tidak hanya berhenti pada baterai Blade yang sudah terbukti di pasar. Enam paten terbaru yang didaftarkan BYD mengarah pada generasi baterai berikutnya dengan kepadatan energi lebih tinggi, di tengah persaingan teknologi solid-state yang semakin ketat melawan Toyota dan CATL.
Paten yang diajukan tersebut menyasar masalah paling krusial dalam pengembangan baterai padat: menjaga stabilitas kontak antara elektroda dan elektrolit selama siklus pengisian serta pengosongan. Jika solusi ini terbukti bekerja, implikasinya besar bagi daya tahan dan keamanan paket baterai pada mobil listrik produksi massal.
Empat Paten Material Kimia: Mencegah Reaksi Berbahaya dan Thermal Runaway
Dari total enam paten yang didaftarkan, empat di antaranya berkutat pada rekayasa material dan struktur kimia. BYD mengusulkan lapisan perantara yang berfungsi ganda: menghantarkan ion sekaligus menjadi pembatas fisik antara elektrolit halida dan sulfida. Langkah ini dirancang untuk menekan reaksi kimia yang tidak diinginkan yang bisa memperpendek usia pakai sel baterai.
Paten lainnya memperkenalkan lapisan penyangga elektrolit solid yang disisipkan di antara katoda aktif dan elektrolit sulfida. Secara teknis, struktur ini bertujuan meningkatkan stabilitas termal dan menekan risiko thermal runaway—kondisi yang kerap menjadi kekhawatiran utama pengguna kendaraan listrik.
Yang menarik, BYD turut mengembangkan struktur katoda berlapis yang memadukan material monokristal dan polikristal. Material monokristal dikenal lebih tahan terhadap keretakan saat baterai terus-menerus diisi dan dikosongkan, sementara polikristal unggul dalam mendukung pengisian cepat. Kombinasi keduanya diharapkan menjadi kompromi ideal antara durabilitas dan performa pengisian daya.
Dua Paten Kesiapan Produksi: Wetting Agent dan Rasio Kontak Partikel
Dua paten sisanya justru lebih menarik karena menyentuh aspek manufakturabilitas—hal yang sering menjadi kuburan bagi teknologi baterai canggih di atas kertas. BYD menggunakan ionic liquid wetting agent dengan distribusi bertingkat pada lapisan elektroda. Fungsinya memperbaiki kontak antarmaterial dan memperlancar transportasi ion di dalam sel.
Paten kedua memperkenalkan parameter bernama Re, yaitu rasio kontak antara partikel katoda dan elektrolit. BYD menetapkan ambang batas minimal 60 persen perimeter partikel katoda harus bersentuhan dengan elektrolit untuk mencapai performa optimal. Angka ini menjadi semacam standar kualitas yang bisa diukur saat proses produksi berlangsung.
Target 2027: Produksi Skala Kecil, Bukan Langsung Massal
Enam paten ini belum berarti teknologi solid-state BYD siap meluncur dalam waktu dekat. Perusahaan menargetkan produksi uji coba skala kecil pada 2027, yang masih berstatus proyek percontohan sebelum dievaluasi untuk penggunaan yang lebih luas.
Jika target tersebut tercapai, teknologi ini berpotensi menjadi lompatan signifikan bagi BYD dalam tiga aspek sekaligus: kepadatan energi yang lebih tinggi, daya tahan siklus yang lebih panjang, dan peningkatan keamanan dibandingkan baterai lithium-ion konvensional. Namun hingga produksi massal benar-benar berjalan, semua masih dalam tahap validasi teknis.