SULAWESI TENGAH — Como, yang musim lalu menjadi kejutan di Serie A dengan finis di posisi keempat dan mengamankan tiket ke Liga Champions, mengumumkan kebijakan ini pada Senin (15/4). Selain aturan absensi, klub asuhan Cesc Fàbregas itu juga melarang pendukung mengenakan atribut tim lawan di seluruh area stadion, kecuali di sektor khusus pendukung tandang.
Ketua klub, Mirwan Suwarso, membela keputusan tersebut melalui pernyataan panjang di Instagram. Ia menegaskan bahwa langkah ini diambil demi memastikan stadion Giuseppe Sinigaglia benar-benar menjadi benteng bagi tim dan para pendukung setia.
Menurut Suwarso, tingginya permintaan tiket yang tidak sebanding dengan kapasitas stadion menjadi alasan utama kebijakan ini dibuat. Ia mengaku kerap melihat pendukung tim lawan merayakan kemenangan di sektor tribun tuan rumah, sementara pendukung Como sendiri kesulitan mendapatkan tiket.
"Permintaan tiket jauh melebihi pasokan. Sudah terlalu sering pendukung tim lawan merayakan di sektor tribun kami, sementara suporter Como yang bangga mendukung tim ini tidak kebagian tiket," ujar Suwarso dalam pernyataannya.
Soal larangan atribut tim lawan, pihak klub menyebut langkah itu murni untuk alasan keamanan. Suwarso ingin Sinigaglia menjadi tempat yang ramah bagi keluarga dan aman bagi semua usia.
"Kami ingin Sinigaglia tetap menjadi tempat di mana kakek-nenek merasa nyaman membawa cucunya, di mana keluarga bisa menikmati sepak bola bersama, dan di mana gairah tidak pernah melewati batas rasa hormat," tambahnya.
Di media sosial, banyak suporter menilai aturan ini terlalu keras. Mereka berargumen bahwa pekerjaan, masalah kesehatan, atau tanggung jawab keluarga bisa menghalangi seseorang hadir ke stadion tanpa mengurangi loyalitas mereka terhadap klub.
Koran lokal La Provincia melaporkan bahwa redaksi mereka kebanjiran telepon dan email dari suporter yang cemas. Beberapa mengaku khawatir dengan kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan hadir, sementara yang lain sering bepergian dinas ke luar kota.
"Mereka ketakutan dan semua bertanya hal yang sama: apakah tiket musiman kami akan dicabut?" tulis La Provincia.
Koran nasional Italia, Corriere della Sera, mengutip salah satu suporter yang bertanya dengan nada sinis: "Apakah kami harus ditemani orang tua saat menyerahkan surat izin, seperti di sekolah?"
Kebijakan ini menjadi ironis mengingat perjalanan Como yang penuh liku. Pada musim 2018-19, klub ini masih terpuruk di Serie D, kasta keempat sepak bola Italia, setelah dua kali bangkrut dalam 15 tahun terakhir.
Musim lalu, klub kecil dari Italia utara itu mengejutkan dunia dengan finis keempat di Serie A. Serangkaian performa luar biasa sepanjang musim membuat mereka layak tampil di kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa musim depan.
Kini, dengan popularitas yang melonjak dan permintaan tiket yang membludak, Como justru menghadapi tantangan baru: bagaimana mengelola antusiasme pendukungnya sendiri tanpa membuat mereka merasa terasingkan oleh klub yang mereka dukung sejak masa-masa sulit.