SULAWESI TENGAH — Ketiadaan fasilitas milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang dikelola Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) itu memaksa 24 atlet yang menjalani pemusatan latihan daerah (puslatda) mandiri untuk berlatih secara terpisah. Mereka tersebar di Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, dan sejumlah daerah lain, tanpa pengawasan langsung dari pelatih pusat.
Latihan Terpencar, Pengawasan Atlet Hilang
Ketua Umum Pengprov POSSI Jatim, Mirza Muttaqien, menyebut skema latihan mandiri ini jauh dari kata efektif. Ia tidak bisa mengontrol perkembangan fisik dan teknik anak asuhnya secara langsung karena masing-masing atlet berlatih bersama klubnya atau secara individual.
"Bagi saya, latihan seperti ini tidak efektif karena kami tidak bisa mengontrol dan memantau langsung perkembangan atlet," ujar Mirza.
Biaya Membengkak dan Fisik Atlet Menurun
Selain persoalan teknis, molornya renovasi kolam renang Kertajaya juga memunculkan tantangan baru di sisi pembiayaan. Para atlet harus menanggung sendiri biaya transportasi dan sewa kolam di daerah masing-masing, sebuah beban tambahan di luar program puslatda yang seharusnya terpusat.
Mirza menegaskan, kombinasi antara pembiayaan mandiri dan latihan yang tidak terkontrol berdampak langsung pada penurunan kondisi fisik maupun mental atlet. "Prinsipnya, sebaik atau sebesar apa pun potensi yang dimiliki atlet, jika latihannya tidak rutin dan tidak terkontrol, tentu hasilnya akan buruk atau tidak sesuai dengan standar yang semestinya," katanya.
Jendela Persiapan Terlalu Sempit untuk PON 2028
Meski proses renovasi dikabarkan hampir rampung dan fasilitas tersebut tengah menjalani masa perawatan, Mirza tetap pesimistis. Ia menilai waktu yang tersisa hingga PON XXII 2028 tidak cukup untuk mengembalikan performa atlet ke puncak kondisi.
Kekhawatiran ini beralasan. Pada PON Aceh-Sumut 2024, kontingen selam Jatim sukses mempertahankan status sebagai kekuatan utama dengan meraih tujuh medali emas. Namun, dengan persiapan yang berantakan seperti sekarang, proyeksi perolehan medali pun terasa sangat sulit diprediksi.
"Dengan kondisi seperti ini saya pasrah. Karena, dengan persiapan seperti sekarang, mustahil bisa menyamai prestasi di PON-PON sebelumnya. Jangankan bicara target, proyeksi berapa medali emas yang bisa kita peroleh saja rasanya sulit," pungkas pria yang juga menjabat direktur salah satu BUMD Jatim tersebut.