SULAWESI TENGAH — Keputusan membeli mobil kerap kali berhenti pada negosiasi harga dan besaran cicilan bulanan. Padahal, komitmen finansial seorang pemilik kendaraan baru dimulai setelah unit keluar dari showroom. Hal inilah yang ditekankan oleh pelaku industri otomotif di tengah gempuran program promosi dan tren model terbaru di pasar Indonesia.
Riki Rusdiono, Area Business Head DKI 1 Auto2000, menyebut ada istilah Total Ownership Experience yang wajib masuk dalam pertimbangan setiap calon pembeli. Faktor-faktor seperti kualitas produk, jaringan bengkel, ketersediaan suku cadang, layanan darurat, hingga nilai jual kembali (resale value) akan menentukan tingkat kenyamanan finansial selama masa pemakaian.
Jangan Terjebak FOMO, Fokus pada Kebutuhan Jangka Panjang
"Intinya jangan sampai terjebak FOMO saat menentukan mobil yang akan dipilih jadi harus melalui pertimbangan matang, Total Ownership Experience mulai dari kualitas produk, jaringan service, suku cadang, emergency, sampai dengan resale value," ujar Riki di Tangerang (6/8/2026).
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) kerap membuat konsumen memilih mobil berdasarkan gengsi atau sekadar mengikuti tren, tanpa menakar kemampuan finansial. Padahal, moment of truth dalam kepemilikan kendaraan tidak berhenti di meja dealer.
"Moment of truth dalam kepemilikan bukan hanya saat membeli tapi sepanjang kita menggunakan mobil tersebut," kata dia menegaskan.
Memahami Total Owning Cost Sebelum Tanda Tangan Kredit
Selain biaya perawatan, calon konsumen juga wajib memahami struktur Total Owning Cost (TOC). Perhitungan ini mencakup uang muka, biaya administrasi, hingga total akumulasi angsuran selama masa kredit yang di dalamnya sudah termasuk bunga, asuransi kendaraan, dan asuransi jiwa.
Dengan mengetahui TOC sejak awal, konsumen mendapatkan gambaran menyeluruh tentang komitmen finansial yang harus disiapkan, bukan hanya sekadar melihat ringannya cicilan bulanan. Penyesuaian besaran uang muka dan tenor kredit juga harus selaras dengan kondisi keuangan pribadi.
Uang muka yang lebih besar memang efektif menekan nominal cicilan. Namun, tenor yang lebih panjang belum tentu menguntungkan jika total bunga yang dibayarkan membengkak hingga kredit lunas.
Kriteria Perusahaan Pembiayaan yang Aman dan Transparan
Dalam memilih skema pembiayaan, legalitas perusahaan menjadi harga mati. Konsumen diimbau hanya menggunakan perusahaan pembiayaan yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Henry Sinaga, Regional Retail Business Head DKI 1 ACC, menambahkan bahwa keamanan berkas kendaraan juga krusial. "Selain memastikan Perusahaan Pembiayaan tersebut berizin dan diawasi OJK, ada baiknya Perusahaan Pembiayaan juga memiliki penyimpanan Bukti Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) yang aman, memiliki produk yang aman serta sesuai dengan kebutuhan konsumen," ucap Henry.
Proses yang transparan dan jaringan layanan yang luas juga mempermudah konsumen dalam melakukan pembayaran atau pengurusan dokumen di kemudian hari. Jangan mudah tergiur bunga rendah tanpa memastikan kredibilitas lembaga pembiayaan tersebut.
Promo Menarik Bukan Jaminan Investasi Tepat
Program promosi dari dealer atau perusahaan pembiayaan memang dapat menekan total pengeluaran awal. Namun, promo sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya alasan membeli mobil tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan finansial dalam jangka panjang.
Perhitungan matang antara biaya pembelian, operasional, perawatan, dan potensi penurunan nilai jual akan menghindarkan konsumen dari beban finansial berlebih. Keputusan membeli mobil yang bijak adalah yang mempertimbangkan seluruh siklus hidup kendaraan, bukan hanya keuntungan sesaat dari potongan harga.