Pencarian

Porsi Asing di SBN Susut ke 13,09 Persen, Kemenkeu Klaim Pasar Domestik Makin Solid

Jumat, 02 Oktober 2026 • 09:19:31 WIB
Porsi Asing di SBN Susut ke 13,09 Persen, Kemenkeu Klaim Pasar Domestik Makin Solid
Kepemilikan investor asing pada SBN turun menjadi 13,09 persen per 15 September 2026.

SULAWESI TENGAH — Kepemilikan investor asing pada Surat Berharga Negara turun ke 13,09 persen per 15 September 2026, setara Rp904,39 triliun. Angka itu jauh di bawah posisi dekade lalu yang sempat menyentuh 40 persen, dan disebut Kementerian Keuangan sebagai bukti basis pembiayaan domestik kian kuat.

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat porsi asing di SBN berada di kisaran 13 persen hingga 14 persen. Penurunan ini berlangsung bertahap selama bertahun-tahun, bukan dalam satu-dua periode penerbitan.

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyebut arah pembiayaan negara memang sengaja digeser ke dalam negeri. Tujuannya mengurangi kerentanan pasar SBN terhadap gejolak global.

Dari 40 Persen ke 13 Persen dalam Satu Dekade

Posisi asing di SBN pernah mendominasi struktur kepemilikan surat utang negara. Pada puncaknya, porsi mereka menyentuh 40 persen dari total outstanding. Kini angkanya tinggal sepertiga dari level tersebut.

Penurunan itu tidak terjadi karena investor asing menarik dana secara besar-besaran dalam waktu singkat. Pemerintah justru memperbesar penerbitan yang diserap investor domestik, sehingga porsi asing tergerus secara proporsional.

Per 15 September 2026, nilai kepemilikan asing tercatat Rp904,39 triliun. Angka ini menjadi acuan terbaru Kemenkeu dalam menilai struktur pembiayaan negara.

Alasan Pemerintah Andalkan Investor Domestik

Juda menegaskan strategi pembiayaan diarahkan ke sumber dalam negeri yang tidak rentan terhadap tekanan eksternal.

"Strategi pembiayaan utamanya adalah tetap fokus, sebagian atau dominannya adalah pembiayaan dari dalam negeri yang relatif tidak rentan terhadap (gejolak) global," ujar Juda dalam acara Media Gathering di Bogor, Jawa Barat.

Logikanya sederhana. Investor domestik, terutama perbankan, dana pensiun, dan asuransi, punya kewajiban investasi jangka panjang dalam rupiah. Mereka tidak serta-merta menarik dana hanya karena The Fed menaikkan suku bunga atau sentimen risk-off melanda pasar emerging market.

Sebaliknya, investor asing bisa keluar cepat saat kondisi global berubah. Arus keluar mendadak itulah yang membuat yield SBN melonjak dan biaya utang pemerintah membengkak.

Apa Artinya bagi Pasar dan Investor

Bagi pelaku pasar, komposisi investor yang didominasi domestik berarti volatilitas harga SBN cenderung lebih terkendali. Guncangan di pasar global tidak langsung merambat ke lelang surat utang negara.

Bagi investor ritel dan institusi lokal, porsi besar ini juga membuka ruang lebih lebar untuk masuk ke instrumen SBN, baik lewat lelang primer maupun pasar sekunder.

Namun, ketergantungan pada investor domestik punya sisi lain. Kapasitas serap pasar lokal terbatas pada likuiditas perbankan dan lembaga keuangan dalam negeri. Jika kebutuhan pembiayaan pemerintah membengkak sementara likuiditas domestik ketat, pemerintah tetap perlu membuka pintu bagi investor asing.

Kemenkeu menilai struktur saat ini sudah cukup solid untuk menahan tekanan eksternal. Pasar akan menguji klaim itu pada lelang-lelang SBN berikutnya, terutama saat yield obligasi global kembali bergerak naik.

Follow www.sultengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: idxchannel.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks